Seperti mata air yang tak pernah kering membagi kejernihannya, cinta ku pun akan tetap mengalir meskipun musim kering tiba. Berpuluh minggu berganti musim aku menunggu. Setiap tanya tertepis begitu saja laksana hari berganti tanpa perlu ada yang dirisaukan.
Aku tak hanya diam menunggu karena cinta akan menua saat cinta itu kembali kepadaku. Berulang kali aku mencari kabar, berulang kali pula aku harus bersabar. Cinta ku memang seluas hamparan kebun teh, namun dia tak sanggup mendeteksi keberadaanmu. Apakah engkau masih mencintaiku?
Jujur aku tak yakin bisa
Jalani hari tanpa dirimu
Namun apalah artinya
Cinta pada bayangan*
Setiap kali aku berjalan menyusuri jalanan berliku menuju tempat dimana engkau pernah bertanya sampai kapankah aku akan mencintaimu selalu saja ada perasaan membiru.
“Aku mencintaimu seumur hidupku”.
Sampai seribu hari telah berlalu …
Aku tidak pernah terpikir untuk meninggalkan cinta ini di atas pusaramu karena jika aku menguburkan cinta ini sama artinya aku melenyapkan satu-satunya ingatan yang aku punya. Dalam dunia ini hanya kamu yang aku ingat, selebihnya aku tak sanggup meraihnya. Semua ingatanku telah hilang tak berbekas, selain kamu dan cinta ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar